Kain Tenun Gringsing: Keluhuran yang Terus Dijaga

Gadis-gadis Bali mengenakan kain Gringsing. sumber: bisniswisata.co.id
Kain tenun gringsing adalag kain tenun khas suku Aga Bali yang berasal dari desa Pegeringsingan, Tenganan.┬áKain yang akhir-akhir ini booming karena mempunyai daya tarik ekonomi yang tinggi. Selembar kain Geringsing mempunyai harga 1 juta – 20 juta rupiah. Namun, aspek ekonomi hanyalah sebagian kecil dari nilai yang dikandung kain ini.
Kain Tenun Gringsing. Terlihat motif-motif khas Tenun Gringsing. sumber: lifestyle.okezone.com

Kain Tenun Gringsing. Terlihat motif-motif khas Tenun Gringsing. sumber: lifestyle.okezone.com

Kain ini adalah sebuah kekayaan budaya Indonesia. Hanya ada tiga kebudayaan yang dapat melakukan teknik double ikat, yaitu India, Jepang dan Indonesia. Salah satu contoh hasil dari teknik double ikat adalah kain Gringsing.
Kain Tenun Gringsing diproduksi di desa Pegeringsingan, Tenganan, Bali. Pemerintah RI, melalui Ditjen Hak Kekayaan Intelektual memberikan hak eksklusif Indikasi Geografis kepada Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Tenganan. Pemberian itu dinilai sebagai pelestarian dan perlindungan bagi penenun desa Tenganan karena kain Geringsing tidak hanya sebuah kain, tapi mempunyai arti bagi kehidupan masyarakat di Tenganan.

Foto koleksi Tropen Museum yang menggambarkan seorang gadis bali sedang menenun. sumber: wikipedia.org

Gringsing berasal dari dua kata, gering yang berarti sakit dan sing yang berarti tidak. Bagi masyarakat pendukungnya, kain ini adalah simbol kesucian yang menjaga dari penyakit dan kejahatan. Dalam kepercayaan masyarakat, Tenganan mendapatkan tempat yang baik karena berada di dekat dengan gunung dan jauh dari pantai.Wilayah gunung adalah wilayah yang paling baik karena dekat dengan Dewa, sedangkan pantai lebih dekat dengan dunia manusia dengan segala baik dan buruknya.

Ilustrasi pengenalan istilah tenun weft/pakan dan wrap/lungsin. sumber artwithmissgrifin.wordpress.com

Kain tenun Gringsing ditenun menggunakan teknik ikat ganda yang terkenal sangat sulit. Kemampuan masyarakat Tenganan dalam teknik ini pun dipercaya diajarkan langsung oleh Dewa Indra. Teknik ikat ganda adalah memasukan weft/pakan (benang yang melintang) ke dalam wrap/lungsin (benang yang membujur), namun keduanya telah diwarnai. Sehingga harus ada keakuratan dalam memadukan warna di pakan dan di lungsing agar tercipta motif yang luar biasa.

Proses Pembuatan Kain Tenun Gringsing

  • Memintal benang
Ilustrasi proses memintal benang secara tradisional. Gambar ini bukanlah pemintalan benang yang digunakan untuk kain Gringsing, namun prosesnya hampir menyerupai. sumber: esocright.blogspot.co.id

Ilustrasi proses memintal benang secara tradisional. Gambar ini bukanlah pemintalan benang yang digunakan untuk kain Gringsing, namun prosesnya hampir menyerupai. sumber: esocright.blogspot.co.id

Benang dibuat menggunakan bahan dasar kapuk berbiji satu ayng didatangkan dari Nusa Peninda karena hanya dihasilkan di sana. Benang lalu dibuat dengan cara dipintal.

  • Mewarnai benang
Benang yang akan diwarnai. Beberapa yang diikat dengan tali rafia adalah bagian yang dijaga agar warna tidak menyerap ke dalam sana. Dari proses ini, sudah dapat dilihat motif kainnya. sumber: kabarkomik.wordpress.com

Benang yang akan diwarnai. Beberapa yang diikat dengan tali rafia adalah bagian yang dijaga agar warna tidak menyerap ke dalam sana. Dari proses ini, sudah dapat dilihat motif kainnya. sumber: kabarkomik.wordpress.com

Kumparan-kumparan benang diwarnai dengan cara direndam ke dalam air yang berwarna. beberapa bagian benang ditutupi agar tidak meresap warna. Jadi, semenjak dari kumparan benang, warna telah disiapkan untuk membuat pola.

Kotak yang berisi pewarna alam untuk pembuatan kain Gringsing. di sebelah kanan adalah biji kemiri dan beberapa potongan akar mengkudu dan kulit kayu kepudung. sumber:kabarkomik.wordpress.com

Kotak yang berisi pewarna alam untuk pembuatan kain Gringsing. di sebelah kanan adalah biji kemiri dan beberapa potongan akar mengkudu dan kulit kayu kepudung. sumber:kabarkomik.wordpress.com

Zaman dahulu hanya terdapat tiga warna dalam pembuatan kain ini, yaitu warna kuning, warna merah dan warna hitam. Warna-warna itu menyimbolkan dewa-dewa dalam kepercayaan Hindu. Warna kuning adalah simbol dari Dewa Siwa, dewa penghancur. Warna merah adalah simbol dari Dewa Brahma, dewa pencipta. Warna putih adalah simbol dari Dewa Wisnu, dewa pemelihara.

Perwarna yang digunakan adalah pewarna alam. Kepundung putih yang dicampur dengan kulit akar mengkudu adalah bahan utama membuat warna merah. Minyak buah kemiri yang telah berusia tua dan dicampur dengan air serbuk kayu adalah bahan utama membuat warna kuning. Sedangkan, Pohon taum bahan dasar membuat warna hitam.

Proses mewarnai memakan waktu yang cukup lama, beberapa warna harus direndam selama kurang lebih 1 – 2 bulan untuk pewarnaannya. Tergantung ketebalan warna yang diinginkan. Jika satu kumparan harus mengalami beberapa kali pewarnaan, waktunya menjadi berkali-kali lipat.

Ketika kumparan telah selesai diwarnai seluruhnya, kumparan tersebut dicuci dengan air beras agar mendapatkan kekakuan dan menghindari kekusutan dan kerusakan ketika proses menenun
  • Menenun

Menenun kain Gringsing. Terlihat penenun sedang merapatkan benang. biasanya alat yang digunakan untuk merapatkan benang adalah tulang kelelawar atau bambu. sumber kabarkomik.wordpress.com

Proses menenun kira-kira selama 2 bulan, namun dibutuhkan keahlian khusus dalam memadukan motif antara pakan dan lungsin. Motif-motif kain tenun Gringsing dipengarhui oleh budaya Hindu Patola dan Kerajaan Majapahit. Dahulu, masyarakat Pegeringsingan mengenal 20 motif, namun sekarang kurang lebih 14 motif yang masih sering ditenun, beberapa diantaranya:

Lubeng
Motif Lubeng. sumber: akar-media.com

Motif Lubeng. sumber: akar-media.com

Motif ini dicirikan dengan kalajengking dan berfungsi sebagai busana adat yang digunakan dalam upacara keagamaan. Beberapa macam motif Lubeng di antaranya, Lubeng Luhur yang tergambar tiga bunga kalajengking yang masih utuh, Lubeng Petang Dasa yang tergambar satu bunga kalajengking utuh di tengah dan di kedua pinggirnya tergambar setengah dan Lubeng Pat Likur yang tergambar bunga kalajengking kecil-kecil.
Sanan Empeg
Motif ini dicirikan dengan bentuk kotak-kotak berwarna merah-hitam. Kain ini digunakan sebagai sarana upacara keagamaan dan adat, pelengkap sesajian bagi masyarakat Tenganan. Bagi masyarakat di luar Tenganan digunakan sebagai bantal/alas kepala ketika melaksanakan upacara potong gigi/menghilangkan taring.
Cecempakaan
Gringsing Motif Cecempakaan

Motif Cecempakaan. sumber: imgrum.com/@pasaklembuart

Motif ini dicirakan dengan bunga cempaka dan berfungsi sebagai busana adat dan upacara keagamaan. beberapa jenis Cecempakaan adalah Cecempakaan Petang Dasa, Cecempakaan Putri dan Cecempakaan Pat Likur.
Cemplong
Motif ini dicirakan dengan bunga besar di antara bunga-bunga kecil. Jenis motif lainnya adalah Cemplong Pat Likur, Cemplong Senteng/Anteng, dan Cemplong Petang Dasa.
Gringsing isi
Bercirikan motif yang berisi penuh, tidak ada kain bagian yang kosong.
Wayang
Motif Wayang Kebo. sumber:media-akar.com

Motif Wayang Kebo. sumber:media-akar.com

Bercirikan motif yang bergambar wayang. terdapat dua jenis, yaitu Wayang Kebo dan Wayang Putri. Motif ini hanya terdiri dua warna, yaitu hitam sebagai latar dan putih yang membentuk sosok wayang.
Batun Tuung

Motin ini dicirikan dengan

error: Maaf, konten terproteksi.
%d bloggers like this: