Merayakan Bendera Merah Putih: Ketahui Kandungan Makna dan Sejarahnya

Foto Pengibaran bendera Merah Putih saat Proklamasi

Dialog kesejarahan: Pemuda dan Merah Putih 2017 adalah kegiatan untuk merayakan bendera Merah Putih, bendera kebangsaan Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan di gedung A, Plaza Insan Berprestasi Kemdikbud pada 14 November 2017. Kegiatan ini juga bersamaan dengan Pameran: Sang Merah Putih Sejarah dan Maknanya.

Bangsa Indonesia memiliki hari-hari bersejarah pada bulan-bulan tersebut, misalnya ada hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober dan hari Pahlawan Nasional pada 10 November. Kegiatan ini juga sekaligus merayakan kedua hari bersejarah tersebut.

Dialog kesejarahan yang mengambil tema Merayakan Bendera Pusaka ini ingin membawa kita kembali memaknai apa arti bendera Merah Putih bagi bangsa Indonesia.

Seperti yang kita ketahui, bendera Merah Putih sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun, belum ada perhatian yang serius dan dianggap hal yang biasa saja seperti yang diterangkan oleh ibu Triana Wulandari, Direktur Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan dalam laporannya “Belum ada porsi tulisan (penelitian sejarah) tentang bendera Merah Putih.”

Hal senada juga disampaikan oleh bapak Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan “Bendera (Merah Putih) seperti diterima jadi (diwariskan pahlawan) oleh kita sehingga kita lupa sejarah simbol negara ini.”

Padahal, banyak makna dan sejarah dalam bendera Merah Putih. Perjuangan para pahlawan yang mengibarkan bendera adalah perjuangan kolektif bangsa.

Bapak Hilmar juga menyampaikan kepada para tamu undangan yang rata-rata guru dan murid di Jabodetabek, bahwa penghapalan dalam belajar sejarah tidak efektif, tapi dilakukan dengan diskusi antargenerasi. Dari diskusi tersebut akan tercipta kesadaran sejarah.

Kesadaran sejarah mengenai apa yang telah terjadi pada saat ini adalah hasil dari perjuangan dan pekerjaan di masa lalu. Yang terjadi pada saat ini adalah warisan untuk generasi selanjutnya.

Dari kegiatan ini, diharapkan para hadirin dan masyarakat umum dapat mengetahui makna bendera Merah Putih khususnya dan menambah wawasan kesejarahan pada umumnya.

Pada kesempatan ini dihadiri oleh Cak Lontong yang memberikan lawakan-lawakan segarnya mengenai sejarah dan kebanggaan menjadi bangsa Indonesia.

Dialog kesejarahan ini dimoderatori oleh Bapak Sumardiansyah dan menghadiri narasumber di antaranya: Bapak Muhammad Bambang Sulistomo (putra Pahlawan Bung Tomo), Bapak Bonnie Trirayan (Pemimpin Redaksi Majalah Historia) dan Ibu Sarasdewi (Kepala Program Studi Filsafat, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia)

Penampilan Cak Lontong (Lis Hartono) Dalam Diskusi Pemuda dan Bendera Merah Putih

Dalam penampilannya kali ini, Cak Lontong ditemani oleh dua temannya. Cak Lontong membuka dengan candaan-candaan ringannya. Cak Lontong mengambil nama-nama pejabat untuk dijadikan bahan jokes. Pertama ialah  bapak Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid. Menurut Cak Lontong, bapak Hilmar orang yang sangat sabar seperti kepanjangan namanya “Hilang Marah Fakai Wirid”.

Ibu Direktur Sejarah juga tidak lepas dari sasaran jokes Cak Lontong. Menurutnya, Triana Wulandari berarti “Terpatri Mempesona, Wanita Unggulan dan Selalu Berseri”.

Kehadiran Cak Lontong membawa suasana menjadi cair dan penuh canda. Bahan candaannya yang lain adalah seekor kucing yang biasa berlalu-lalang di Plaza Insan Berprestasi.

Sesi Stand up Comedy Cak Lontong pada rangkaian kegiatan Sang Merah Putih: Sejarah dan Maknanya.

Sesi Stand up Comedy Cak Lontong pada rangkaian kegiatan Sang Merah Putih: Sejarah dan Maknanya.

Kawan Cak Lontong memberikan pertanyaan. “Binatang apa yang jalannya berkaki tiga?” tidak ada yang bisa menjawab. Jawabnya ialah “kucing yang sedang membawa map untuk melamar pekerjaan.” Membuat banyak pengunjung tersenyum.

Cak Lontong memberikan pertanyaan, “Lalu kucing apa yang jalannya dengan dua kaki?” tidak ada yang bisa menjawab. Jawabnya ialah “kucing yang sedang melamar itu sedang mengisi formulir sambil membawa map.” Pengunjung tertawa.

Dalam Stand Up Comedy-nya, Cak Lontong mengatakan bahwa kita harus bangga dengan Indonesia. Adanya Amerika Serikat berkat Indonesia. Kenapa begitu? Pada zaman dahulu, banyak orang Eropa yang berlomba-lomba menuju Indonesia mencari rempah-rempah.

Kebetulan, Christoper Colombus yang disuruh Kerajaan Spanyol mencari rempah-rempah di Indonesia, tersasar ke benua yang sekarang dinamakan Amerika.

Pada zaman Napoleon Bonaparte pun Indonesia memegang peran penting untuk kekalahan Napoleon saat menyerang Rusia. Napoleon saat itu mempunyai tentara terkuat di dunia, namun karena Indonesia ia kalah.

Saat Napoleon menyerang Rusia, tiba-tiba turun salju yang pada saat itu seharusnya belum turun. Itu semua karena Gunung Tambora di Indonesia meletus sehingga menyebabkan pengubahan iklim.

Prajurit Napoleon yang tidak memiliki persiapan menghadapi musim dingin tiba-tiba akhirnya kalah.

Cak Lontong dan kedua temannya membuat para pengunjung tidak henti-hentinya tertawa.

Dialog Kesejarahan: Pemuda dan Merah Putih

Setelah sesi stand up comedy Cak Lontong, dimulai Dialog Kesejarahan: Pemuda dan Merah Putih. Bapak Sumardiansyah diminta memoderatori dialog ini oleh MC.

Sebelum memulai sesi narasumber, Bapak Sumardiansyah memperkenalkan Bapak Muhammad Bambang Sulistomo (putra Pahlawan Bung Tomo) sebagai pembicara pertama, Bapak Bonnie Triyana (Pemimpin Redaksi Majalah Historia) sebagai pembicara kedua dan Ibu Sarasdewi (Kepala Program Studi Filsafat, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia) sebagai pembicara ketiga.

Bapak Bambang Sulistomo menyampaikan bahwa pada masa penjajahan, ada kelompok-kelompok pemuda yang tinggal di berbagai pelosok tanah air berkumpul di Jakarta untuk melakukan kongres. Untuk apa? karena untuk kemerdekaan, kemerdekaan Indonesia.

Semua bangsa pasti tidak ingin dijajah. Pasti ingin berdaulat menentukan nasibnya sendiri. Maka begitu pula dengan Indonesia. Indonesia merdeka berkat perjuangan bangsa Indonesia.

Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, terdapat 6 kata merdeka disebutkan. Kemerdekaan zaman dahulu adalah kemerdekaan dari penjajah. Sekarang, kemerdekaan adalah untuk kemerdekaan pengembangan diri, kemerdekaan dari penindasan, kemerdekaan dari tekanan-tekanan berbagai pihak.

Kata keadilan juga beberapa kali disebutkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Keadilan adalah dasar dari persatuan di Indonesia yang memiliki kebhinekaan.

Dari persatuan itu bangsa Indonesia dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Kepahlawanan bagi Bapak Bambang Sulistomo mengandung nilai-nilai ketulusan dan ikhlas. Seorang pahlawan adalah seorang yang terus mengusahakan untuk bangsa walaupun luar kapasitas dan kemampuannya.

Pembicara kedua, Bapak Bonnie Triyana menyampaikan pentingnya belajar sejarah yang membangkitkan sifat kritis dan logis. Tujuan belajar sejarah yang utama adalah mengetahui sejarah dengan kritis tidak sekadar menerima. Hapalan akan menghilangkan konteks sejarah.

Suasana Dialog Sejarah: Pemuda dan Merah Putih.

Suasana Dialog Sejarah: Pemuda dan Merah Putih.

Bapak Bonnie Triyana mendukung pernyataan Bapak Hilmar Farid bahwa para pengajar, guru-guru, menjelaskan sebab-musabab suatu peristiwa agar anak-anak dapat berpikiran kritis dan logis.

Beberapa metode yang dapat dicontoh adalah ketika pengalaman beliau ke salah satu galeri nasional di Australia. Pada saat itu Bapak Bonnie melihat sekelompok murid-murid SD sedang berkunjung ditemani oleh guru dan kurator museum.

Guru itu menunjukkan kepada murid-muridnya tentang sebuah lukisan klasik yang bergambar Bunda Maria sedang menggendong bayi dan dikelilingi orang-orang.

Sang guru bertanya “Mengapa pada lukisan-lukisan klasik Bunda Maria memakai baju bir?” murid-murid tidak ada yang bisa menjawab.

Guru tersebut menjelaskan bahwa pada zaman itu, warna biru adalah warna yang paling mahal. Proses pembuatan warna biru menggunakan bahan-bahan yang mahal. Bunda Maria memiliki kedudukan yang tinggi di agama Katholik. Jadi warna biru adalah warna yang sesuai dengan kedudukan Bunda Maria.

Berbeda halnya dengan warna kuning. Warna kuning dihasilkan dari proses yang cukup jorok. Bahan pewarna kuning adalah urin sapi yang diberi makanan khusus.

Lukisan “Kawan-kawan Revolusi”, yang dimaksud adalah wajah yang mempunyai warna kulit yang agak pucat.

Contoh lainnya adalah lukisan Alm. Sudjojono yang berjudul “Kawan-kawan Revolusi”. Menurut keterangan anak Alm Sudjojono, di sana ada seorang yang wajahnya mengenaskan. Ada sejarah tersendiri mengenai sosok tersebut.

Sosok itu bernama Dullah. Ia adalah kawan seperjuangan Alm. Sudjojono ketika masa Agresi Militer I tahun 1946.  Dullah meninggal dengan cara yang cukup tragis.

Ia berlari menyongsong dua buah tank Belanda yang sedang berpatroli. Ia berlari karena merasa granat gembyong yang ia bawa (granat buatan asli pejuang Indonesia yang cara meledakannya harus dicampur oleh suatu bubuk kimia) akan meledak. Ketika granat itu meledak, Dullah meninggal dan membuat rusak tank Belanda.

Bung Karno di depan lukisan "Kawan-kawan Revolusi". sumber: archive.ivaa-online.org

Bung Karno di depan lukisan “Kawan-kawan Revolusi”. sumber: archive.ivaa-online.org

Lukisan itu dipajang di istana negara. Bung Karno sering menceritakan kisah ini kepada tamu-tamunya. Suatu hari, Bung Karno kedatangan tamu dari klub bola yang berasal dari Moskow. Bung Karno menceritakan kisah ini, lalu sang kapten mengajak rekan-rekannya untuk mengheningkan cipta khusus untuk Bung Dullah.

Lukisan "Kawan-kawan Revolusi" karya Sudjojono yang saat ini berada di istana negara. sosok Alm. Dullah yang diceritakan kemungkinan wajah yang dengan kulit yang agak pucat. sumber: 3karya.hypen.web.idLukisan “Kawan-kawan Revolusi” karya Sudjojono yang saat ini berada di istana negara. sosok Alm. Dullah yang diceritakan kemungkinan wajah yang dengan kulit yang agak pucat. sumber: 3karya.hypen.web.id

Jika pelajaran sejarah seperti yang diceritakan oleh Bapak Bonnie akan lebih menarik murid-murid. Murid-murid juga akan mengetahui konteks sebuah benda atau peristiwa yang terjadi saat ini.

Soal pemuda, Pak Bonnie Triyana menarik pada Sumpah Pemuda yang dilaksanakan pada 28 Oktober 1928 di Jalan Kramat, Jakarta. Pada saat itu tercipta sebuah pernyataan yang memiliki nilai geopolitik dan mindscape. Pada saat itu tidak ada isu-isu mayoritas dan minoritas. Semua berkumpul menyatakan satu bangsa, satu nusa dan satu bahasa.

Pemuda Indonesia sangat bersemangat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya saat pertempuran di Surabaya, November 1945. Para pemuda mempertahankan kedaulatan Indonesia di bawah gempuran tentara Inggris yang merupakan pemenang Perang Dunia ke-2.

Peristiwa itu mengundang para tokoh pemuda membuat pamflet. Ialah Tan Malaka dan Sutan Sjahrir.

Tan Malaka pada pamfletnya yang berjudul “Muslihat” mengatakan pertempuran Surabaya adalah modal merdeka 100%. Tidak ada perundingan dengan penjajah. Bahwa jika ada maling yang masuk ke rumah kita, kita wajib mengusirnya. Setelah berada di luar rumah baru berunding.

Sutan Sjahrir pada pamfletnya yang berjudul “Perjuangan Kita” mengatakan perjuangan bangsa Indonesia harus menggunakan prinsip kemanusian. Tidak boleh gelap mata.

Dari kedua pamflet itu dapat ditarik bahwa Indonesia mempunyai potensi untuk bersaing dan potensi yang melihat sisi kemanusian.

Bapak Bonnie menutup sesinya dengan pesan setiap generasi menuliskan sejarahnya masing-masing. Belajar sejarah yang baik adalah dengan mendiskusikan  agar tercipta sebuah intersubjektivitas.

Belajar sejarah bukan karena untuk masuk jurusan sejarah, tapi belajar menjadi manusia logis dan kritis. Itu adalah modal bagi generasi-generasi pada masa mendatang.

Pembicara ketiga adalah Ibu Saras Dewi. Saras Dewi menceritakan makna dari bendera Merah Putih. Ia mengambil makna bendera Merah Putih dari yang sangat dekat dengan hidupnya. Yaitu bendera yang setiap menjelang hari kemerdekaan dipasang di halaman rumah dan jika tidak sedang dipasang, dilipat dan disimpan di baret almarhum kakeknya. Baret kebanggan keluarganya.

Kakek dari Saras Dewi adalah seorang veteran perang, mantan anggota resimen I Gusti Ngurah Rai. Almarhum bernama I Made Dhama, ketika masa revolusi ia baru berumur 17 tahun.

Sebelum terjadi Puputan Margarana, almarhum diperintahkan untuk kembali ke Denpasar untuk menjaga pos di sana. Namun, kondisi di Denpasar sudah tidak seperti yang diperintahkan.

Dari penuturan Saras, almarhum kakeknya sering bercerita tentang masa-masa perjuangannya itu. Almarhum  sedih karena tidak terlibat puputan Margarana.

Semasa hidup, kakek I Made Dhama menjadi guru. Almarhum juga membuat Yaysan Taman Pendidikan 1945. Taman Pendidikan yang mendidik putra-pturi Bali untuk nusa dan bangsa.

Ketika menjelang akhir hayatnya, almarhum menuturkan ingin bertemu dengan teman-teman pasukannya.

Puputan Margarana adalah salah satu puputan yang terjadi di Bali. Berbagai puputan pernah terjadi di Bali. Puputan yang terkenal lainnya adalah Puputan Jagaraga. Puputan yang dilakukan oleh Raja Buleleng menghadapi Belanda.

Puputan berasal dari kata puput yang berarti selesai atau habis.

Puputan Margarana adalah perjuangan untuk Indonesia tidak hanya untuk Bali.

Sekarang, generasi muda harus mempertahankan kemerdekaan dengan prestasi.

Menghargai kepahlawanan bagi Saras adalah mengingat korban Tragedi Semanggi I, 13 November dan mengingat perjuangan Almarhum Munir dalam membantu rakyat yang mengalami ketimpangan sosial.

Pameran Sang Merah Putih: Sejarah dan Maknanya

Pameran Sang Merah Putih: Sejarah dan Makananya berlangsung di Plaza Insan Berprestasi, Gedung A, Kemdikbud. Pameran ini berlangsung 10 – 14 November 2017.

Pameran ini berisi foto-foto bersejarah pengibaran bendera Merah Putih yang bersumber dari IPPHOS dan NIGIS yang didapatkan dari Arsip Nasional Republik Indoneisa, ANRI serta beberapa koleksi foto dari Perpustakan Nasional Republik Indonesia. Foto-fotonya dapat dilihat sebagai berikut:

Murid-murid Sekolah Dasar sedang mengunjugi pameran Sang Merah Putih: Sejarah dan Maknanya.

Murid-murid Sekolah Dasar sedang mengunjugi pameran Sang Merah Putih: Sejarah dan Maknanya.

 

 

Tempat Pameran Sang Merah Putih: Sejarah dan Maknanya

 

Penutup

Kegiatan ini membangkitkan kembali makna bendera Merah Putih yang mungkin sudah banyak dilupakan oleh kebanyakan orang Indonesia. Padahal, bendera Merah Putih mempunyai arti dan menyimpan semangat mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Semoga mulai bermunculan penulisan-penulisan dan penilitan sejarah mengenai bendera Merah Putih khususnya dan simbol-simbol kebangsaan pada umumnya. Pada tahun depan, mungkin selain membuat pameran dan dialog juga dibuat sebuah lomba yang memperingati dan merayakan simbol-simbol negara yang memiliki sejarah kebangsaan yang kuat.

Informasi kegiatan-kegiatan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud yang lain dapat dilihat di sini.

Pesan, saran dan kritikmu turut membangun website ini!

error: Maaf, konten terproteksi.